Tidak seperti bapaknya yang seorang dalang di desa, awan malah tidak suka seni tradisi sedikitpun
Ia kerap
mengunci kamar erat erat ketika tiap malam bapaknya latihan melafalkan bait
bait sastra materi wayangan atau latihan bersama pemain gamelan dan sinden.
awan jauh
lebih tertarik dengan film, waktunya ia habiskan untuk menonton film baik itu
dirumah secara streaming maupun dibioskop
lulus SMA
awan merantau ke Ibukota untuk melanjutkan kuliah Film,
awan belajar
pengambilan gambar, director of photography, pencahayaan three point lighting,
sampai pada keaktoran, acting penulisan naskah, dan penyutradaraan
kegiatannya
sehari hari ialah menulis naskah lalu mengutak ngatik kamera, dan casting
kesana kemari
film demi
film dia ikutin, sampai akhirnya seorang produser memangilnya untuk berdiskusi
keluar dari
ruangan produser, awan membawa sebuah map bertuliskan “Director”
inilah
kesempatan pertamanya menyutradarai sebuah film,
tentu ini
akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi awan
semuanya ia
siapkan dengan baik, membaca naskah, mengutak atik scenario, casting pemain, reading
bersama pemain, mengatur blocking masuk keluarya pemain. Mengatur pencahayaan bersama
DOPnya, dan mempersiapkan lagu bersama composernya
tanpa lelah
ia mengorbankan semua tenaga demi film pertamanya
Dini hari
sehabis syuting hari pertama,
awan duduk
di set, memandangi kiri dan kanan.
sendirian
ia sadar,
ternyata apa yang ia lakukan ialah apa yang bapaknya juga lakukan.
Membaca buku-buku
kesusastraan, mengutak atik materi, casting wayang apa saja yang digunakan, mengatur
pencahayaan yang menggunakan api, mengatur blocking keluar masuknya wayang, dan
mempersiapkan music yang pas untuk setiap adegannya.
“pak, filim
ini aku bikin untukmu” kata awan dengan mata berkaca-kaca

Komentar
Posting Komentar