Langsung ke konten utama

DALANG sebuah cerpen karya Adryan Natha

 

Tidak seperti bapaknya yang seorang dalang di desa, awan malah tidak suka seni tradisi sedikitpun

 

Ia kerap mengunci kamar erat erat ketika tiap malam bapaknya latihan melafalkan bait bait sastra materi wayangan atau latihan bersama pemain gamelan dan sinden.

 

awan jauh lebih tertarik dengan film, waktunya ia habiskan untuk menonton film baik itu dirumah secara streaming maupun dibioskop

 

lulus SMA awan merantau ke Ibukota untuk melanjutkan kuliah Film,

awan belajar pengambilan gambar, director of photography, pencahayaan three point lighting, sampai pada keaktoran, acting penulisan naskah, dan penyutradaraan

kegiatannya sehari hari ialah menulis naskah lalu mengutak ngatik kamera, dan casting kesana kemari

film demi film dia ikutin, sampai akhirnya seorang produser memangilnya untuk berdiskusi

 

keluar dari ruangan produser, awan membawa sebuah map bertuliskan “Director”

 

inilah kesempatan pertamanya menyutradarai sebuah film,

tentu ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi awan

 

semuanya ia siapkan dengan baik, membaca naskah, mengutak atik scenario, casting pemain, reading bersama pemain, mengatur blocking masuk keluarya pemain. Mengatur pencahayaan bersama DOPnya, dan mempersiapkan lagu bersama composernya

tanpa lelah ia mengorbankan semua tenaga demi film pertamanya

 

Dini hari sehabis syuting hari pertama,

awan duduk di set, memandangi kiri dan kanan.

sendirian

 

ia sadar, ternyata apa yang ia lakukan ialah apa yang bapaknya juga lakukan.

 

Membaca buku-buku kesusastraan, mengutak atik materi, casting wayang apa saja yang digunakan, mengatur pencahayaan yang menggunakan api, mengatur blocking keluar masuknya wayang, dan mempersiapkan music yang pas untuk setiap adegannya.

 

“pak, filim ini aku bikin untukmu” kata awan dengan mata berkaca-kaca




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gak Ada yang Gak Berharga

Sesi kedua perkuliahan, Seperti kebanyakan manusia yang mesti kuliah di jam 3 sore, aku sangat mengantuk.   Sehabis makan siang masuk ke sebuah ruangan yang dingin membuat mataku semakin berat. Aku tidak tahu siapa yang akan mengajar hari ini, karena dalam sistem pendidikan di kampusku satu mata kuliah bisa diajar oleh dosen yang berbeda. “semoga dosen hari ini tidak membuat aku semakin mengantuk” harapanku dalam hati.   Sembari menunggu, masing masing mahasiswa telah menyiapkan peralatannya, ada yang menggunakan laptop, ipad, tab, dan lain sebagainya. aku biasanya menggunakan buku, buku catatan bersampul merah selalu menemaniku untuk mencatat setiap pelajaran dosen. Kadang juga buat corat coret kalau lagi gabut. wkwk Tak lama kemudian suara pintu terdengar, Mba Ubiet (begitu kami menyebutnya) masuk keruangan. Syukurnya kehadiran mba ubiet membuat suasana sore menjadi ceria, dengan gayanya yang aktif ketika menjelaskan dan mengajak mahasiswa juga turut aktif berpartisipasi dal...

Follow, Cerpen karya Adryan Natha

  Follback ya! Atau Follow back ya!   Wkwkkw ini adalah perintah paling tidak penting di dunia sosial media   Kenapa?   Karena, orang memfollow sebuah akun itu karena konten akun tersebut menarik baginya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti   Entah karena edukatif, inspiratif, ataupun menghibur   Jadi kalau memfollow seseorang karena dipaksa untuk follback, ya ngapain?   Mengikuti sebuah akun yang kita ga suka Yang isinya gak jelas   Bahkan ada akun yang tidak post apapun, tapi followernya ribuan   Wkwkwk sudah dipastikan ini orang yang memaksa temen temennya untuk follback, dengan ancaman kalau enggak follback digosipin tukang selingkuh.   Tapi ada juga follow seseorang karena pertemanan, buukan karena konten. Sebenarnya ini tak harus terjadi sih Cuma segan aja, kalau tidak follow, digosipin orang sombong yang sok ngartis di sosmed.   Tapi ya ngapain follow akun yang tidak berfae...

Tragis, cerpen karya Adryan Natha

  Ini adalah sebuah kisah yang sangat tragis, terkait meninggalnya seorang bocah   Jadi, Pada suatu hari seorang bocah minta jalan jalan   Nah, bapaknya kemudian mengajaknya ke belakang rumah, Disana bocah tersebut melihat sumur   “nak awas hati hati” kata bapak mengingatkan agar bocah tersebut waspada   “iya pak” kata bocah itu   Bocah tersebut mengelurkan permen dari kantungnya, dia hendak memakan permen itu   Tapi permennya jatuh ke sumur   “pak permenku jatuh” kata anak itu   “oh ambil aja nak, belum lima menit”   Bocah tersebut nyemplung ke sumur.   TAMAT.