Sesi kedua perkuliahan,
Seperti kebanyakan manusia yang mesti kuliah di jam 3 sore,
aku sangat mengantuk.
Sehabis makan siang masuk ke sebuah ruangan yang dingin membuat mataku semakin berat.
Aku tidak tahu siapa yang akan mengajar hari ini, karena dalam sistem pendidikan di kampusku satu mata kuliah bisa diajar oleh dosen yang berbeda.
“semoga dosen hari ini tidak membuat aku semakin mengantuk” harapanku dalam hati.
Sembari menunggu, masing masing mahasiswa telah menyiapkan peralatannya, ada yang menggunakan laptop, ipad, tab, dan lain sebagainya.
aku biasanya menggunakan buku, buku catatan bersampul merah selalu menemaniku untuk mencatat setiap pelajaran dosen. Kadang juga buat corat coret kalau lagi gabut. wkwk
Tak lama kemudian suara pintu terdengar, Mba Ubiet (begitu kami menyebutnya) masuk keruangan.
Syukurnya kehadiran mba ubiet membuat suasana sore menjadi ceria, dengan gayanya yang aktif ketika menjelaskan dan mengajak mahasiswa juga turut aktif berpartisipasi dalam perkuliahan, Mba Ubiet sukses membuat kelas sore menjadi terasa menyenangkan
Mba Ubiet menjelaskan terkait Exercise Data
Bahwa mengumpulkan data adalah hal yang penting untuk dilakukan untuk menjadi bahan dari karya penciptaan yang akan kita buat.
Karena kami mahasiswa penciptaan maka data yang perlu dikumpulkan tentu tak sama seperti data kuantitatif pada umumnya, data yang yang dimaksud seperti percobaan-percobaan, eksplorasi ruang, suara, pengamatan, dan lain sebagainya
Mba ubiet menceritakan bagaimana ia melakukan soundwalk dengan berjalan dan fokus pada indra pendengarannya untuk menerima suara dari apapun yang ada disekelilingnya, yang kemudian ia rekam dan catat dan menjadi sebuah data.
“Gak ada yang gak berharga, jangan sepelekan apa yang kita lihat, dengar & rasakan sehari hari” begitu kata Mba Ubiet.
Selanjutnya mba ubiet meminta mahasiswa untuk menceritakan gagasan penciptaan karyanya
Di kelas, Aku selalu merasa menjadi bocah kecil diantara orang orang yang sudah berpengalaman yang duduk di samping-sampingku, oleh karena itu aku paling jarang memulai mengangkat tangan dalam pelajaran
Aku selalu melihat dan mengamati, dan mencatat kakak-kakak seniorku yang bertanya atau memberikan pendapat ataupun memaparkan konsep mereka.
Waktu berlalu,
empat orang telah mengajukan gagasan dan masing masing mendapatkan masukan yang sangat membantu guna kemajuan dari proses penciptaan karyanya.
“Yang lain?” kata Mba Ubiet
Aku diam dan dalam hati bergumam “jangan aku jangan aku plis jangan”
Tapi dari belakang abang-abang seniorku lebih dahulu mengatakan “ayo Bli ayo Bli”
(Bli adalah panggilanku di kelas)
Mba Ubiet memandangku.
Huhh
Dalam keadaan terdesak itupun aku meng-iya-kan.
Dengan perlahan aku mengemukakan gagasan penciptaan karyaku yaitu seni ventriloquism.
“Oh masih sama?” kata mba ubiet sambil tersenyum
Memang sejak awal memutuskan untuk kuliah aku telah membawa gagasan dan konsep seni ventriloquism yang akan aku kembangkan di perkuliahan,
diantara banyak mahasiswa yang telah berganti ganti gagasan karya, aku masih setia dengan gagasan ventriloquismku
alasannya karena ventriloquism adalah bidang yang aku suka dan aku cukup tau seluk beluknya, ventriloquism adalah bidang yang karenanya aku bisa sehari tidak keluar kamar untuk main boneka, berlatih, mengulik segala hal terkaitnya.
meskipun dalam hati aku masih punya keraguan akan seperti apakah karya yang aku buat nanti, baik itu bentuk karyanya atau pesan didalamnya atau kebaruan, atau teknis terkaitnya
Aku selalu membandingkan ventriloquism di Indonesia ini dengan di luar terutama Amerika Serikat, perbedaan-perbedaan itu yang kemudian aku katakan kepada mba ubiet.
Mba ubiet mendengarkan semua gagasanku dan terdiam sejenak,
kemudian dia mulai bercerita terkait perjalanannya ke Bali
Di pasar gianyar dia duduk untuk menikmati ikan bakar.
Sembari makan dia mengamati sekitar, kehidupan orang-orang di pasar, adegan demi adegan jual dan beli, kepulan asap, warna-warni barang dagangan, interaksi saling sapa, anak yang menangis tidak dibelikan mainan oleh ibunya, juga bapak-bapak yang mandi keringat mengangkat keranjang.
“Itu Teater” katanya sambil memandangku
Mba Ubiet mengingatkanku bahwa aku tidak harus selalu serta merta mencari ke luar, aku bisa mulai dari tempatku dilahirkan,
Gianyar,
Selanjutnya mba ubiet berkata
“Mungkin bukan Ventriloquism, kamu bisa menciptakan sebuah karya baru yang berakar dari itu dengan mengamati kehidupan di sekitarmu
Coba deh kamu keluar jalan, amati sekitarmu, dan serap seni dari situ”
Aku memperhatikan Mba Ubiet dengan seksama, dan dengan tempo sesingkat-singkatnya aku tulis kata-katanya dalam buku catatan merahku,
Tak lama kemudian kelas berakhir,
Sebelum mahasiswa keluar ruangan,
Mas Wisnu, salah seorang mahasiswa yang juga merupakan seniorku berkata
“bli, coba googling tentang Agora”
Jujur yang pertama aku pikirkan adalah kucing berbulu lebat,
tapi ternyata bukan
Agora adalah tempat pertemuan yang kemudian menjadi pasar dan juga menjadi tempat berbicara didepan umum pada zaman yunani.
Ini semakin membuat kepalaku tak henti hentinya untuk berpikir terkait karya ciptaanku.
Sampai malam kepalaku masih terngiang tentang karya baru dari ventriloquism, tentang pasar, tentang kehidupan, tentang gianyar, tentang ikan bakar.
Dengan melawan tarikan magnet dari tempat tidurku, aku bangkit membuka laptop,
kutulis rasa yang aku alami hari ini sebagai data,
kutulis wawasan yang masuk ke otaku,
dan gagasan yang keluar dari mulutku
aku masih dalam sebuah perjalanan, apapun hasilnya nanti aku juga masih belum tau
tapi setidaknya, perjalanan ini memberikan aku banyak hal. Perjalanan ini berharga.
seperti kata Mba Ubiet
"Tidak ada yang tidak berharga".

Komentar
Posting Komentar