Langsung ke konten utama

Ngoceh, sebuah cerpen karya Adryan Natha

 

Pagi ini saya duduk di depan laptop, sambil mendengarkan backsound lagu titanic.

 

Semalam gak tidur karena pikiran saya traveling keliling keliling

Saya berpikir, untuk apa saya hidup?

 

Untuk apa sih saya dilahirkan? Toh juga saya merasa ada saya dan tidak ada saya di dunia ini, dunia ini akan berjalan baik baik saja.

 

Pikiran saya mengembara, bertanya banyak pertanyaan yang saya pun tidak tau harus mencari jawabannya dimana.

 

Kenapa ada orang yang dilahirkan di keluarga yang kaya dan serba tercukupi, disisi lain kenapa ada orang yang dari lahir sudah berjuang keras bermandikan keringat

 

Ada orang yang sekali makan malam sekelurga di restoran mewah sampai menghabiskan 30juta. Tapi ada kelurga yang makan satu porsi bakso untuk dibagi satu keluarga

 

Aku punya teman di kampus yang menganggap restoran junkfood kfc atau mcd sebagai tempat makan biasa aja. Tapi aku juga punya teman yang menganggap itu sebagai makanan mewah.

 

Ada orang yang berjuang setiap hari membuat karya teater, sekrang sudah 20tahun berkarya, hidupnya masih susah, dan karyanya tidak ada orang yang tau.

 

Disisi lain ada seorang yang hanya iseng rekam video dirinya lalu diupload di media sosial dan sekarang hidupnya berubah. Ia kaya dan terkenal.

 

Kenapa???

 

Maaf buat kamu yang membaca tulisan ini, mungkin ini terasa seperti saya sangat mengeluh.

 

Tapi jujur karena memang seperti ini adanya

Semalam suntuk saya kepikiran akan hal ini

 

Saya takut.

 

Jujur saya takut

Jika apa yang saya lakukan tidak mendapat apresiasi, atau bahkan tidak ada yang peduli, dan saya harus menjadi seorang yang berkarya tapi hidupnya melarat

Sampai akhirnya bunuh diri karena frustasi

 

Memang benar seni itu harus dari hati, idealis

Tapi dunia ini perlu uang untuk bertahan hidup

Persetanlah orang orang yang bilang “Uang bukan segalanya”

Karena orang yang bilang begitu biasanya orang yang kaya

Mereka sudah punya banyak uang, sehingga hidupnya terjamin

 

Uang itu penting, dijaman sekarang bulshit jika bisa hidup tanpa uang sepeserpun

Ah, sekali lagi maaf, saya tidak tau harus mengakhiri tulisan ini dengan kata kata seperti apa

 

Mungkin segitu aja dulu, saya pusing

Pikiran saya masih beradu argument

Mulut saya tak henti mengoceh

Tubuh saya lemas tak berdaya, perang melawan diri sendiri ternyata jauh lebih susah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gak Ada yang Gak Berharga

Sesi kedua perkuliahan, Seperti kebanyakan manusia yang mesti kuliah di jam 3 sore, aku sangat mengantuk.   Sehabis makan siang masuk ke sebuah ruangan yang dingin membuat mataku semakin berat. Aku tidak tahu siapa yang akan mengajar hari ini, karena dalam sistem pendidikan di kampusku satu mata kuliah bisa diajar oleh dosen yang berbeda. “semoga dosen hari ini tidak membuat aku semakin mengantuk” harapanku dalam hati.   Sembari menunggu, masing masing mahasiswa telah menyiapkan peralatannya, ada yang menggunakan laptop, ipad, tab, dan lain sebagainya. aku biasanya menggunakan buku, buku catatan bersampul merah selalu menemaniku untuk mencatat setiap pelajaran dosen. Kadang juga buat corat coret kalau lagi gabut. wkwk Tak lama kemudian suara pintu terdengar, Mba Ubiet (begitu kami menyebutnya) masuk keruangan. Syukurnya kehadiran mba ubiet membuat suasana sore menjadi ceria, dengan gayanya yang aktif ketika menjelaskan dan mengajak mahasiswa juga turut aktif berpartisipasi dal...

Pengamatan Seni Ventriloquism Di Indonesia

  Saya Adryan natha, saya menyukai seni ventriloquism,  dan ingin menjadi seorang ventriloquist pada awalnya saya selalu latihan di depan cermin setiap hari sambil menulis materi yang saya kira lucu, materi tersebut saya latih dan kemudian saya rekam. Selanjutnya saya upload di media sosial, tetapi ternyata responnya tidak sesuai yang saya harapkan. Saya lantas melakukan riset kecil kecilan dengan menonton berbagai pertunjukan ventriloquism di youtube. Saya mendapat kesimpulan bahwa ventriloquism adalah seni panggung, selayaknya seni panggung, pertunjukan ventriloquism akan lebih pas jika disajikan di depan penonton langsung. Asumsi saya seni ventriloquism sama seperti seni stand up comedy yang dilatih dengan dicoba di depan penonton langsung dalam acara openmic. Saya mencoba perform di openmic stand up indo bali, di daerah teuku umar Denpasar. Hasilnya lumayan oke, 80% materi komedi saya diterima dengan bagus, 20% sisanya berantakan karena grogi pertama kali nyoba...

Ventriloquist Unik Indonesia

 Adryan Natha kembali mempertunjukan Seni Ventriloquist dengan Puppet Figure barunya yaitu Pocong. karakter seorang yang sudah meninggal dihidupkan dalam panggung ventriloquist Adryan Natha. Adryan dan pocong sontak membuat penonton tertawa dengan pertanyaan dan jawaban bodoh dari obrolan orang hidup dan orang mati tersebut. karakter pocong ini dibuat langsung oleh adryan natha dengan bantuan seniman seniman topeng di bali. proses pembuatannya memakan waktu sekitar 2minggu guna mendapatkan hasil yang memuaskan. nantinya karakter pocong ini akan menjadi teman Adryan Natha diatas panggung untuk menyampaikan keresahan keresahannya seputar dunia kematian. ikuti update adryan natha di sosial medianya, silahkan klik link berikut ini : https://www.instagram.com/adryan_natha/?hl=id  https://www.tiktok.com/@div.ka?is_copy_url=1&is_from_webapp=v1