Pagi ini
saya duduk di depan laptop, sambil mendengarkan backsound lagu titanic.
Semalam gak
tidur karena pikiran saya traveling keliling keliling
Saya berpikir,
untuk apa saya hidup?
Untuk apa
sih saya dilahirkan? Toh juga saya merasa ada saya dan tidak ada saya di dunia
ini, dunia ini akan berjalan baik baik saja.
Pikiran saya
mengembara, bertanya banyak pertanyaan yang saya pun tidak tau harus mencari
jawabannya dimana.
Kenapa ada
orang yang dilahirkan di keluarga yang kaya dan serba tercukupi, disisi lain
kenapa ada orang yang dari lahir sudah berjuang keras bermandikan keringat
Ada orang
yang sekali makan malam sekelurga di restoran mewah sampai menghabiskan 30juta.
Tapi ada kelurga yang makan satu porsi bakso untuk dibagi satu keluarga
Aku punya
teman di kampus yang menganggap restoran junkfood kfc atau mcd sebagai tempat
makan biasa aja. Tapi aku juga punya teman yang menganggap itu sebagai makanan
mewah.
Ada orang
yang berjuang setiap hari membuat karya teater, sekrang sudah 20tahun berkarya,
hidupnya masih susah, dan karyanya tidak ada orang yang tau.
Disisi lain
ada seorang yang hanya iseng rekam video dirinya lalu diupload di media sosial
dan sekarang hidupnya berubah. Ia kaya dan terkenal.
Kenapa???
Maaf buat
kamu yang membaca tulisan ini, mungkin ini terasa seperti saya sangat mengeluh.
Tapi jujur
karena memang seperti ini adanya
Semalam suntuk
saya kepikiran akan hal ini
Saya takut.
Jujur saya
takut
Jika apa
yang saya lakukan tidak mendapat apresiasi, atau bahkan tidak ada yang peduli,
dan saya harus menjadi seorang yang berkarya tapi hidupnya melarat
Sampai akhirnya
bunuh diri karena frustasi
Memang benar
seni itu harus dari hati, idealis
Tapi dunia
ini perlu uang untuk bertahan hidup
Persetanlah orang
orang yang bilang “Uang bukan segalanya”
Karena orang
yang bilang begitu biasanya orang yang kaya
Mereka sudah
punya banyak uang, sehingga hidupnya terjamin
Uang itu
penting, dijaman sekarang bulshit jika bisa hidup tanpa uang sepeserpun
Ah, sekali
lagi maaf, saya tidak tau harus mengakhiri tulisan ini dengan kata kata seperti
apa
Mungkin segitu
aja dulu, saya pusing
Pikiran saya
masih beradu argument
Mulut saya
tak henti mengoceh
Tubuh saya lemas
tak berdaya, perang melawan diri sendiri ternyata jauh lebih susah.

Komentar
Posting Komentar