Namaku Ekayana, biasa dipanggil Eka. Ya dalam namaku ada kata Kaya, tapi kehidupanku sangat sangat jauh dari itu.
Ibuku jualan nasi dedpn rumah dan selalu sepi, ayahku kerja
serabutan dan hasilnya tidak pasti.
Aku juga sepulang sekolah bekerja di ladang tetangga untuk
membantyu ekonomi keluarga
Kalau dibilang tidak tahan, ya jelas tidak tahan. Tiap hari
aku melihat teman temanku main hp, sepeda baru, ada yang punya computer, bahkan
ada yang sudah dibelikan motor oleh orang tuanya. Jangankan aku, ayahku yang
umurnya sudah 2kali lipat dari aku aja belum pernah naik motor. Alasan kami
bertahan adalah karena kami tidak tau. Tidak tau harus apa. Tiap hari kami
sudah berusaha, kerja keras, tapi hasilnya tidak seberapa.
Tiap malam aku menangis, kenapa hidupku begini!. Aku sudah
tidak pernah lagi berdoa sejak setaun terakhir. Tiap kali berdoa aku minta
untuk kerja keras kami dibayar dengan sesuai. Tapi hingga kini kami masih
melarat. Hutang ayahku sudah semakin banyak. Warung makan kecil milik ibuku
hanya diisi satu dua pelanggan setiap harinya.
Aku sempat dimarahi guru karena merobek kata kata motivasi
yang tertempel di dinding sekolah.
Kata kata bertuliskan “Hasil tidak akan menghianati usaha”
dan “hemat pangkal kaya” sengaja aku robek.
Aku tak mau seperti ini terus. Aku harus mengakhiri ini!
Malam itu aku datang ke sebuah gubuk kecil depinggir sawah.
Konon katanya kakek yg tinggal disana sakti, aku memang tidak begitu percaya
dengan hal mistis sih, tapi taka da salahnya mencoba. aku datang membawa
bebrapa makanan
“selamat malam kek” kataku pelan
“langsung masuk, pintunya tidak dikunci” kata seseorang dari dalam
Aku langsng melepas sendalku dan masuk, gubuk beralas tanah,
sanya terdapat peneranagan satu lilin, di dinding dinding gubuk dihias kayu
kayu yang beranekaragam dan tanduk tanduk kijang, dan sapi.
Kakek tua kurus, jenggotnya panjang, kepalanya diikat kain,
tidak memakai baju, menggunakan sarung, dan berjalan dengan tongkat
“iya ada perlu apa nak” kata kakek
“oh ini kek, aku eka mau berkunjug sekalian ini ada makanan
sekedarnya hihihi”
“biasanya orang yang datng kesini pasti ada perlunya” kata
kakek
“hmmm maaf aku lancang kek, aku denger denger kakek bisa ilmu
agar usaha kita berhasil ya kek?”
“kata siapa?” kakek menatapku tajam
“ohh aku denger dari temen kek, maaf kek, usaha warung ibuku
dari dulu tidak pernah berhasil, padahal ibuku sudah kerja keras masak dari
subuh kek, aku ingin membantu ibuku agar usahanya laris kek”
“hahahahaha kakek ini Cuma orang tua biasa nak, kakek juga
tidak pernah bikin warung makan mana tau kakek biar laku gimana”
“tolong aku kek pliss”
“lebih baik pulang saja nak, bantu ibumu jualan biar tambah
laku warungnya”
Aku sedih, juga kecewa. Ekspektasiku tidak berjalan dengan
baik, segera aku meninggalkan gubuk kakek tua, sebelum menutup pintu kakek tua
memanggilku
“ini taruh didepan warung ibumu, taburin sedikit ke makanan
sebelum warung buka. Taruhnya juga harus disembunyiin agar tidak ada yang tau.
Tapi ini ada konsekuensinya.” kata kakek
“okee siaapp kek ahh terimakasiii kek terimakasiiihhh banyak”
“cepat pulanglahh”
Malam itu juga aku melakukan peritah kakek tua. Dan langsung
ke rumah utuk beristirahat. Aku bangun lebih pagi dari biasanya untuk perintah
kakek selanjutnya yaitu menabirkan.
Sepulang sekolah aku kaget warung ibuku dikerumunin warga.
Ibu nampak sangat kewalahan untuk menyiapkan pesanan yang membludak
Aku segera membantu ibu untuk menyajikan makanan
“Terimakasih kek” dalam hatiku gembira
Tak sampai sore hari makanan di warung habis, seluruh
pelaggan mengatakan makanan ibuku adalah makanan terenak.
Ibu nampak sangat bahagia, sudah sangat lama aku melihat ibu
sebahagia ini. Warung sudah tutup tapi ibu masih tak beranjak dari dari
kursinya
“ibu kenapa” kataku
“duhh nak, ibu senang sekali, kalo kita berusaha dengan baik
hasilnya juga akan baik” kata ibu matanya berkaca kaca
“ibu lebih baik sekarang kita menyiapkan bahan untuk masakan
besok”
Kita berdua mentup warung dan segera ke pasar di ujung desa
Ibu sangat semanagt hari ini, senyum lebarnya juga turut
membuatku bahagia
Keesokan harinya warung ibu lebih ramai lagi, dan sama
seperti kemarin sebelum senja makanan sudah habis semua
“sepertinya besok kita harus masak lebih banyak nak, kita
buka sampe malam saja” kata ibuku semangat
Bapakku juga berhenti kerja serabutan dan memutuskan untuk
membantu ibu di warung
Setiap harinya warung ibu berkembang pesat, ramai pembeli
dan selalu dipui pelanggan. Bahkan kini bapak telah memperbesar warung ibu.
Juga kini aku menjadi lebih semangat ke sekolah, aku punya
sepeda baru, dan aku membwa uang jajan yang cukup untuk ikut bergabung di
kantin dengan teman teman.
Sepulang sekolah aku menyempatkan membeli jajanan, sesuatu
yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, karena pulang sekolah biasanya aku lari
larian agar tidak terlambat bekerja.
“mau yang mana dik?” kata penjualnya
Suaranya taka sing bagiku,
“kakek?” kataku menebak
Iya ternaya itu kakek yang mambantuku
“kemana aja kamu!, kenapa setelah kakek memberimu jimat,
kamu tak pernah lagi mengujungi kakek?”
“mmmm maa.. maaaf kek” kataku
“ingat itu ada konsekuensinya!”
“hmmm app appaaa kek?”
“yang kau taurh di warung ibumu adalah makhluk, sosok wanita
tinggi berambut panjang, dia membantu menarik orang orang agar datang, itulah
alasan kenapa kebanyakan orang yang makan di warung ibumu adalah laki laki. orang
yang datang tidak pernah merasakan rasa masakan ibumu yang sebenarnya.”kata
kakek meyakinkan
“trus aku harus apa kek?”
“sekarang ini sudah kelamaan, makhluk itu udah bekerja tiap
hari dan dia meminta bayaran darimu! Kau harus membahagiakannya, menikahinya,
dan memperlakukannnya dengan baik!”
“hah? Ahh aku tidak mau! Kakek mengada ada, setan itu tidak
pernah ada!” kataku membentak
“kau harus melakukannya”
Aku tak memperdulikan kata kakek tua itu dan segera beranjak
pulang kerumah, secepatnya aku harus membuang jimat kakek tua itu
Seperti biasa warung ibuku ramai
Eh.. tapi berbeda..
Kini ramai pemebeli yang marah
“IBU EKA PENIPUUU!!!”
“MAKANANNYA BERACUN”
Sorak pelanggan pelanggan ibu
Bapak mencoba menenangkan semua pelanggan yang marah marah
Ibu segera mengajakku ke kamar
“nak, ibu minta kamu jujur” kata ibu sambil menangis
Air mataku tak kuasa aku tahan, aku menceritakan semua
sambil menangis
“karnamu sekarang tidak ada lagi yang percaya sama ibu nak”
“ibu selalu mengajariku usaha tidak akan pernah menghianati
hasil, bu, ibu sudah memeulai jualan dari 2tahun lalu, tidak pernah cukup untuk
kembali modal, usaha yang ibu pertahankan tidak kunjung menuai hasil”
“tapi ibu bersyukur!” bentak ibu
“ibu bekerja memasak tiap hari dengan pauh rasa syukur!,duhh
gusti… kamu tau pak naryo dia buta berjualan kerupuk keliling setiap hari, ibu
darmi yang menjual sayur, ditinggal sama orang tua sejak masih kecil, tidak
punya suami dan berjuang sendiri tianggal di gubuk kecil di pasar!. seharusnya
kamu liat mereka, kita sudah syukur dikasi temoat yang nyaman, kamu punya
pakaian yag nyaman!. Nak, lebih baik miskin tapi hallal daripada kaya tapi
jalan ya sesat, duhh gustiiii”

Komentar
Posting Komentar