Langsung ke konten utama

Ekayana dan masalahnya (cerpen)

 Namaku Ekayana, biasa dipanggil Eka. Ya dalam namaku ada kata Kaya, tapi kehidupanku sangat sangat jauh dari itu.

Ibuku jualan nasi dedpn rumah dan selalu sepi, ayahku kerja serabutan dan hasilnya tidak pasti.

Aku juga sepulang sekolah bekerja di ladang tetangga untuk membantyu ekonomi keluarga

Kalau dibilang tidak tahan, ya jelas tidak tahan. Tiap hari aku melihat teman temanku main hp, sepeda baru, ada yang punya computer, bahkan ada yang sudah dibelikan motor oleh orang tuanya. Jangankan aku, ayahku yang umurnya sudah 2kali lipat dari aku aja belum pernah naik motor. Alasan kami bertahan adalah karena kami tidak tau. Tidak tau harus apa. Tiap hari kami sudah berusaha, kerja keras, tapi hasilnya tidak seberapa.

Tiap malam aku menangis, kenapa hidupku begini!. Aku sudah tidak pernah lagi berdoa sejak setaun terakhir. Tiap kali berdoa aku minta untuk kerja keras kami dibayar dengan sesuai. Tapi hingga kini kami masih melarat. Hutang ayahku sudah semakin banyak. Warung makan kecil milik ibuku hanya diisi satu dua pelanggan setiap harinya.

Aku sempat dimarahi guru karena merobek kata kata motivasi yang tertempel di dinding sekolah.

Kata kata bertuliskan “Hasil tidak akan menghianati usaha” dan “hemat pangkal kaya” sengaja aku robek.

Aku tak mau seperti ini terus. Aku harus mengakhiri ini!

Malam itu aku datang ke sebuah gubuk kecil depinggir sawah. Konon katanya kakek yg tinggal disana sakti, aku memang tidak begitu percaya dengan hal mistis sih, tapi taka da salahnya mencoba. aku datang membawa bebrapa makanan

“selamat malam kek” kataku pelan

“langsung masuk, pintunya tidak dikunci”  kata seseorang dari dalam

Aku langsng melepas sendalku dan masuk, gubuk beralas tanah, sanya terdapat peneranagan satu lilin, di dinding dinding gubuk dihias kayu kayu yang beranekaragam dan tanduk tanduk kijang, dan sapi.

Kakek tua kurus, jenggotnya panjang, kepalanya diikat kain, tidak memakai baju, menggunakan sarung, dan berjalan dengan tongkat

“iya ada perlu apa nak” kata kakek

“oh ini kek, aku eka mau berkunjug sekalian ini ada makanan sekedarnya hihihi”

“biasanya orang yang datng kesini pasti ada perlunya” kata kakek

“hmmm maaf aku lancang kek, aku denger denger kakek bisa ilmu agar usaha kita berhasil ya kek?”

“kata siapa?” kakek menatapku tajam

“ohh aku denger dari temen kek, maaf kek, usaha warung ibuku dari dulu tidak pernah berhasil, padahal ibuku sudah kerja keras masak dari subuh kek, aku ingin membantu ibuku agar usahanya laris kek”

“hahahahaha kakek ini Cuma orang tua biasa nak, kakek juga tidak pernah bikin warung makan mana tau kakek biar laku gimana”

“tolong aku kek pliss”

“lebih baik pulang saja nak, bantu ibumu jualan biar tambah laku warungnya”

Aku sedih, juga kecewa. Ekspektasiku tidak berjalan dengan baik, segera aku meninggalkan gubuk kakek tua, sebelum menutup pintu kakek tua memanggilku

“ini taruh didepan warung ibumu, taburin sedikit ke makanan sebelum warung buka. Taruhnya juga harus disembunyiin agar tidak ada yang tau. Tapi ini ada konsekuensinya.” kata kakek

“okee siaapp kek ahh terimakasiii kek terimakasiiihhh banyak”

“cepat pulanglahh”

Malam itu juga aku melakukan peritah kakek tua. Dan langsung ke rumah utuk beristirahat. Aku bangun lebih pagi dari biasanya untuk perintah kakek selanjutnya yaitu menabirkan.

Sepulang sekolah aku kaget warung ibuku dikerumunin warga. Ibu nampak sangat kewalahan untuk menyiapkan pesanan yang membludak

Aku segera membantu ibu untuk menyajikan makanan

“Terimakasih kek” dalam hatiku gembira

Tak sampai sore hari makanan di warung habis, seluruh pelaggan mengatakan makanan ibuku adalah makanan terenak.

Ibu nampak sangat bahagia, sudah sangat lama aku melihat ibu sebahagia ini. Warung sudah tutup tapi ibu masih tak beranjak dari dari kursinya

“ibu kenapa” kataku

“duhh nak, ibu senang sekali, kalo kita berusaha dengan baik hasilnya juga akan baik” kata ibu matanya berkaca kaca

“ibu lebih baik sekarang kita menyiapkan bahan untuk masakan besok”

Kita berdua mentup warung dan segera ke pasar di ujung desa

Ibu sangat semanagt hari ini, senyum lebarnya juga turut membuatku bahagia

Keesokan harinya warung ibu lebih ramai lagi, dan sama seperti kemarin sebelum senja makanan sudah habis semua

“sepertinya besok kita harus masak lebih banyak nak, kita buka sampe malam saja” kata ibuku semangat

Bapakku juga berhenti kerja serabutan dan memutuskan untuk membantu ibu di warung

Setiap harinya warung ibu berkembang pesat, ramai pembeli dan selalu dipui pelanggan. Bahkan kini bapak telah memperbesar warung ibu.

Juga kini aku menjadi lebih semangat ke sekolah, aku punya sepeda baru, dan aku membwa uang jajan yang cukup untuk ikut bergabung di kantin dengan teman teman.

Sepulang sekolah aku menyempatkan membeli jajanan, sesuatu yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, karena pulang sekolah biasanya aku lari larian agar tidak terlambat bekerja.

“mau yang mana dik?” kata penjualnya

Suaranya taka sing bagiku,

“kakek?” kataku menebak

Iya ternaya itu kakek yang mambantuku

“kemana aja kamu!, kenapa setelah kakek memberimu jimat, kamu tak pernah lagi mengujungi kakek?”

“mmmm maa.. maaaf kek” kataku

“ingat itu ada konsekuensinya!”

“hmmm app appaaa kek?”

“yang kau taurh di warung ibumu adalah makhluk, sosok wanita tinggi berambut panjang, dia membantu menarik orang orang agar datang, itulah alasan kenapa kebanyakan orang yang makan di warung ibumu adalah laki laki. orang yang datang tidak pernah merasakan rasa masakan ibumu yang sebenarnya.”kata kakek meyakinkan

“trus aku harus apa kek?”

“sekarang ini sudah kelamaan, makhluk itu udah bekerja tiap hari dan dia meminta bayaran darimu! Kau harus membahagiakannya, menikahinya, dan memperlakukannnya dengan baik!”

“hah? Ahh aku tidak mau! Kakek mengada ada, setan itu tidak pernah ada!” kataku membentak

“kau harus melakukannya”

Aku tak memperdulikan kata kakek tua itu dan segera beranjak pulang kerumah, secepatnya aku harus membuang jimat kakek tua itu

Seperti biasa warung ibuku ramai

Eh.. tapi berbeda..

Kini ramai pemebeli yang marah

“IBU EKA PENIPUUU!!!”

“MAKANANNYA BERACUN”

Sorak pelanggan pelanggan ibu

Bapak mencoba menenangkan semua pelanggan yang marah marah

Ibu segera mengajakku ke kamar

“nak, ibu minta kamu jujur” kata ibu sambil menangis

Air mataku tak kuasa aku tahan, aku menceritakan semua sambil menangis

“karnamu sekarang tidak ada lagi yang percaya sama ibu nak”

“ibu selalu mengajariku usaha tidak akan pernah menghianati hasil, bu, ibu sudah memeulai jualan dari 2tahun lalu, tidak pernah cukup untuk kembali modal, usaha yang ibu pertahankan tidak kunjung menuai hasil”

“tapi ibu bersyukur!” bentak ibu

“ibu bekerja memasak tiap hari dengan pauh rasa syukur!,duhh gusti… kamu tau pak naryo dia buta berjualan kerupuk keliling setiap hari, ibu darmi yang menjual sayur, ditinggal sama orang tua sejak masih kecil, tidak punya suami dan berjuang sendiri tianggal di gubuk kecil di pasar!. seharusnya kamu liat mereka, kita sudah syukur dikasi temoat yang nyaman, kamu punya pakaian yag nyaman!. Nak, lebih baik miskin tapi hallal daripada kaya tapi jalan ya sesat, duhh gustiiii”






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gak Ada yang Gak Berharga

Sesi kedua perkuliahan, Seperti kebanyakan manusia yang mesti kuliah di jam 3 sore, aku sangat mengantuk.   Sehabis makan siang masuk ke sebuah ruangan yang dingin membuat mataku semakin berat. Aku tidak tahu siapa yang akan mengajar hari ini, karena dalam sistem pendidikan di kampusku satu mata kuliah bisa diajar oleh dosen yang berbeda. “semoga dosen hari ini tidak membuat aku semakin mengantuk” harapanku dalam hati.   Sembari menunggu, masing masing mahasiswa telah menyiapkan peralatannya, ada yang menggunakan laptop, ipad, tab, dan lain sebagainya. aku biasanya menggunakan buku, buku catatan bersampul merah selalu menemaniku untuk mencatat setiap pelajaran dosen. Kadang juga buat corat coret kalau lagi gabut. wkwk Tak lama kemudian suara pintu terdengar, Mba Ubiet (begitu kami menyebutnya) masuk keruangan. Syukurnya kehadiran mba ubiet membuat suasana sore menjadi ceria, dengan gayanya yang aktif ketika menjelaskan dan mengajak mahasiswa juga turut aktif berpartisipasi dal...

Pengamatan Seni Ventriloquism Di Indonesia

  Saya Adryan natha, saya menyukai seni ventriloquism,  dan ingin menjadi seorang ventriloquist pada awalnya saya selalu latihan di depan cermin setiap hari sambil menulis materi yang saya kira lucu, materi tersebut saya latih dan kemudian saya rekam. Selanjutnya saya upload di media sosial, tetapi ternyata responnya tidak sesuai yang saya harapkan. Saya lantas melakukan riset kecil kecilan dengan menonton berbagai pertunjukan ventriloquism di youtube. Saya mendapat kesimpulan bahwa ventriloquism adalah seni panggung, selayaknya seni panggung, pertunjukan ventriloquism akan lebih pas jika disajikan di depan penonton langsung. Asumsi saya seni ventriloquism sama seperti seni stand up comedy yang dilatih dengan dicoba di depan penonton langsung dalam acara openmic. Saya mencoba perform di openmic stand up indo bali, di daerah teuku umar Denpasar. Hasilnya lumayan oke, 80% materi komedi saya diterima dengan bagus, 20% sisanya berantakan karena grogi pertama kali nyoba...

Ventriloquist Unik Indonesia

 Adryan Natha kembali mempertunjukan Seni Ventriloquist dengan Puppet Figure barunya yaitu Pocong. karakter seorang yang sudah meninggal dihidupkan dalam panggung ventriloquist Adryan Natha. Adryan dan pocong sontak membuat penonton tertawa dengan pertanyaan dan jawaban bodoh dari obrolan orang hidup dan orang mati tersebut. karakter pocong ini dibuat langsung oleh adryan natha dengan bantuan seniman seniman topeng di bali. proses pembuatannya memakan waktu sekitar 2minggu guna mendapatkan hasil yang memuaskan. nantinya karakter pocong ini akan menjadi teman Adryan Natha diatas panggung untuk menyampaikan keresahan keresahannya seputar dunia kematian. ikuti update adryan natha di sosial medianya, silahkan klik link berikut ini : https://www.instagram.com/adryan_natha/?hl=id  https://www.tiktok.com/@div.ka?is_copy_url=1&is_from_webapp=v1