Namanya Dea. Gadis cantik yang selalu dekat dengan warna.
Dea sangat senang melukis,
lukisan warna warni adalah gaya dan ciri khas lukisan dea.
Setiap kali dea menyelesaikan satu lukisan, Dea memandangi dan berdoa
menjadi pelukis yang sukses, kemudian hatinya terbagi dua, satu sisi senang
karena berhasil menyelesaikan karyanya, sisi lain sedih karena artinya dea
harus membeli kanvas, cat dan peralatan lukisan lagi. semua alat alat itu
dibeli dari uang tabungan dea hasil kerjanya di toko setiap sabtu dan minggu.
Dea sebenarnya tidak didukung melukis oleh orang tuanya, bapaknya selallu marah tiap kali melihat dea melukis.
Karnanya pun dea selalu
melukis pada tengah malam. Lukisannya biasa ia simpan di belakang lemari
pakaian. Dea Sangat sayang dan bangga dengan semua hasil karya lukisannya dan
suatu saat berharap bisa punya pameran sendiri
Suatu ketika, saat pulang sekolah dea di dataangi ibu Desi,
guru kesenian yang juga wali kelas Dea. Ibu Desi meminta setiap anak boleh
menyumbang atau melalang hasil keryanya, spesial untuk Dea ibu desi meminta Dea
untuk bisa melelang lukisannya untuk acara amal sekolah dan Ibu Desi juga
meminta Dea untuk ikut Lomba melukis di kota
“untuk lomba melukis dea bersedia bu, tapi untuk melelang
lukisan, maaf dea tidak bisa bu”
“ehh kenapa dea?” Kata Ibu Desi Heran
“lukisan dea tidak untuk dijal bu, dea sangat sayang lukisan
Dea, bahan bahannya juga hasil kerja dea bu”
“Nak Dea, iya ibu paham, tentu kita tidak mau kehilangan
hasil jerih payah kita, ibu tau nak dea tidak didukung untuk melukis oleh bapak
ibu, tapi coba liat keluar, disana masih banyak anak yg bahkan tidak punya
bapak ibu, untuk makan mereka harus kerja keras padahal masih kecil. Nak dea”
“bhaikla ibu” kat Dea sembari menahan air mata
Keesokan harinya dea membawa lukisan kesayangannya ke
sekolah, dan tak lupa dea membawa kanvas dan cat untuk latihan disekolah.
Pola pola warna yang baru ia pelajari
Dan benar saja atas kepiawaian dea dalam mengolah dan
memadukan warna, dea berhasil mendapat penghargaan lukisan terbaik pilihan
dewan juri, ketika Dea naik panggung dan menerima hadiah hatinya kembali
terbagi dua, senang karena menang, tapi disisi lain sedih karena orang tuanya
tak hadir dan tak melihat saat saat penting dalam hidupnya itu. Nak dea yang
terpinting di dunia ini adalah berguna buat orang lain”
Sampai dirumah dea, langsung menemui bapaknya dan
memperlihatkan lukisan terbaiknya. Alih alih merasa senang bapaknya justru
marah besar. Lukisan dea diinjak sembari berteriak teriak hingga kepalanya
pusing dan jatuh. Melihat kejadian itu dea takut, sedih juga marah, tap idea
tak berani melawan bapaknya.
Dea kemudian minta bantuan tetangga untuk mengantar bapaknya
ke rumah sakit.
Teringat kembali kata Bu Desi, Dea memberikan semua uang
hadiah untuk mengobati bapaknya.
Komentar
Posting Komentar