Langsung ke konten utama

Dea Si Pelukis (Cerpen)

 

Namanya Dea. Gadis cantik yang selalu dekat dengan warna. 

Dea sangat senang melukis, 

lukisan warna warni adalah gaya dan ciri khas lukisan dea. 

Setiap kali dea menyelesaikan satu lukisan, Dea memandangi dan berdoa menjadi pelukis yang sukses, kemudian hatinya terbagi dua, satu sisi senang karena berhasil menyelesaikan karyanya, sisi lain sedih karena artinya dea harus membeli kanvas, cat dan peralatan lukisan lagi. semua alat alat itu dibeli dari uang tabungan dea hasil kerjanya di toko setiap sabtu dan minggu.

Dea sebenarnya tidak didukung melukis oleh orang tuanya, bapaknya selallu marah tiap kali melihat dea melukis. 

Karnanya pun dea selalu melukis pada tengah malam. Lukisannya biasa ia simpan di belakang lemari pakaian. Dea Sangat sayang dan bangga dengan semua hasil karya lukisannya dan suatu saat berharap bisa punya pameran sendiri

Suatu ketika, saat pulang sekolah dea di dataangi ibu Desi, guru kesenian yang juga wali kelas Dea. Ibu Desi meminta setiap anak boleh menyumbang atau melalang hasil keryanya, spesial untuk Dea ibu desi meminta Dea untuk bisa melelang lukisannya untuk acara amal sekolah dan Ibu Desi juga meminta Dea untuk ikut Lomba melukis di kota

“untuk lomba melukis dea bersedia bu, tapi untuk melelang lukisan, maaf dea tidak bisa bu”

“ehh kenapa dea?” Kata Ibu Desi Heran

“lukisan dea tidak untuk dijal bu, dea sangat sayang lukisan Dea, bahan bahannya juga hasil kerja dea bu”

“Nak Dea, iya ibu paham, tentu kita tidak mau kehilangan hasil jerih payah kita, ibu tau nak dea tidak didukung untuk melukis oleh bapak ibu, tapi coba liat keluar, disana masih banyak anak yg bahkan tidak punya bapak ibu, untuk makan mereka harus kerja keras padahal masih kecil. Nak dea”

“bhaikla ibu” kat Dea sembari menahan air mata

Keesokan harinya dea membawa lukisan kesayangannya ke sekolah, dan tak lupa dea membawa kanvas dan cat untuk latihan disekolah.

Pola pola warna yang baru ia pelajari

Dan benar saja atas kepiawaian dea dalam mengolah dan memadukan warna, dea berhasil mendapat penghargaan lukisan terbaik pilihan dewan juri, ketika Dea naik panggung dan menerima hadiah hatinya kembali terbagi dua, senang karena menang, tapi disisi lain sedih karena orang tuanya tak hadir dan tak melihat saat saat penting dalam hidupnya itu. Nak dea yang terpinting di dunia ini adalah berguna buat orang lain”

Sampai dirumah dea, langsung menemui bapaknya dan memperlihatkan lukisan terbaiknya. Alih alih merasa senang bapaknya justru marah besar. Lukisan dea diinjak sembari berteriak teriak hingga kepalanya pusing dan jatuh. Melihat kejadian itu dea takut, sedih juga marah, tap idea tak berani melawan bapaknya.

Dea kemudian minta bantuan tetangga untuk mengantar bapaknya ke rumah sakit.

Teringat kembali kata Bu Desi, Dea memberikan semua uang hadiah untuk mengobati bapaknya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gak Ada yang Gak Berharga

Sesi kedua perkuliahan, Seperti kebanyakan manusia yang mesti kuliah di jam 3 sore, aku sangat mengantuk.   Sehabis makan siang masuk ke sebuah ruangan yang dingin membuat mataku semakin berat. Aku tidak tahu siapa yang akan mengajar hari ini, karena dalam sistem pendidikan di kampusku satu mata kuliah bisa diajar oleh dosen yang berbeda. “semoga dosen hari ini tidak membuat aku semakin mengantuk” harapanku dalam hati.   Sembari menunggu, masing masing mahasiswa telah menyiapkan peralatannya, ada yang menggunakan laptop, ipad, tab, dan lain sebagainya. aku biasanya menggunakan buku, buku catatan bersampul merah selalu menemaniku untuk mencatat setiap pelajaran dosen. Kadang juga buat corat coret kalau lagi gabut. wkwk Tak lama kemudian suara pintu terdengar, Mba Ubiet (begitu kami menyebutnya) masuk keruangan. Syukurnya kehadiran mba ubiet membuat suasana sore menjadi ceria, dengan gayanya yang aktif ketika menjelaskan dan mengajak mahasiswa juga turut aktif berpartisipasi dal...

Pengamatan Seni Ventriloquism Di Indonesia

  Saya Adryan natha, saya menyukai seni ventriloquism,  dan ingin menjadi seorang ventriloquist pada awalnya saya selalu latihan di depan cermin setiap hari sambil menulis materi yang saya kira lucu, materi tersebut saya latih dan kemudian saya rekam. Selanjutnya saya upload di media sosial, tetapi ternyata responnya tidak sesuai yang saya harapkan. Saya lantas melakukan riset kecil kecilan dengan menonton berbagai pertunjukan ventriloquism di youtube. Saya mendapat kesimpulan bahwa ventriloquism adalah seni panggung, selayaknya seni panggung, pertunjukan ventriloquism akan lebih pas jika disajikan di depan penonton langsung. Asumsi saya seni ventriloquism sama seperti seni stand up comedy yang dilatih dengan dicoba di depan penonton langsung dalam acara openmic. Saya mencoba perform di openmic stand up indo bali, di daerah teuku umar Denpasar. Hasilnya lumayan oke, 80% materi komedi saya diterima dengan bagus, 20% sisanya berantakan karena grogi pertama kali nyoba...

Ventriloquist Unik Indonesia

 Adryan Natha kembali mempertunjukan Seni Ventriloquist dengan Puppet Figure barunya yaitu Pocong. karakter seorang yang sudah meninggal dihidupkan dalam panggung ventriloquist Adryan Natha. Adryan dan pocong sontak membuat penonton tertawa dengan pertanyaan dan jawaban bodoh dari obrolan orang hidup dan orang mati tersebut. karakter pocong ini dibuat langsung oleh adryan natha dengan bantuan seniman seniman topeng di bali. proses pembuatannya memakan waktu sekitar 2minggu guna mendapatkan hasil yang memuaskan. nantinya karakter pocong ini akan menjadi teman Adryan Natha diatas panggung untuk menyampaikan keresahan keresahannya seputar dunia kematian. ikuti update adryan natha di sosial medianya, silahkan klik link berikut ini : https://www.instagram.com/adryan_natha/?hl=id  https://www.tiktok.com/@div.ka?is_copy_url=1&is_from_webapp=v1