Bisa
dikatakan karena tren, lagu “jiwa yang bersedih” yang dipopulerkan oleh Ghea
Indrawari selalu menggema di telinga penulis. Baik ketika membuka sosial media
ataupun mendengarkan radio tatkala menyetir mobil, lagu tersebut selalu
berkumandang.
Salah satu potongan lirik yang paling membekas dihati penulis ialah
“selama ini kau hebat,
hanya kau tak didengar”.
Tentunya tulisan
ini tidak akan menjadi sebuah artikel bedah lirik lagu. Namun yang akan
difokuskan dalam tulisan ini ialah pada proses seseorang ketika berkarya. Setiap
hari menungkan ide kretifnya, tak kenal lelah untuk berkreasi, ketika
menampilkan hasilnya, semesta berkata lain, hasil tidak sesuai dengan proses.
Sering kali
terjadi seseorang menuangkan ide kreatif, yang dikerjakan dengan sepenuh hati,
namun minim apresiasi. Tentunya hal ini akan membuat sang seniman berkecil
hati. Tak jarang diantaranya berhenti dan mencari tempat lain,
mengikuti orang lain, mengerjakan sesuatu yang tak ia suka.
Selama ini kau hebat.
Walaupun kamu tidak didengar,
sebenarnya bukanlah sebuah masalah
Tidak didengar,
ataupun tidak dilihat, ataupun tidak diapresiasi hari ini, bukan berarti
selamanya akan seperti itu
Kesuksesan terjadi karena keseluruhan dari proses kreatif (body of work),
sangat mustahil sesorang bisa mengerjakan sesuatu untuk pertama
kali dan langsung memperoleh hasil yang sempurna
Seorang penulis
bernama James Clear, berkata :
“When nothing seems to help, I go and
look at a stonecutter hammering away at his rock, perhaps a hundred times
without as much as a crack showing in it. Yet at the hundred and first blow it
will split in two, and I know it was not that last blow that did it—but all
that had gone before”
Beliau melihat seorang yang terus menerus menempa batu, namun tidak ada retakan sama sekali, pada pukulan yang keseratus, batu itu terbelah.
Yang menyebabkan batu tersebut
terbelah tentu bukan pukulan keseratus, tapi semua pukulan yang telah terjadi
sebelumnya.
Kembali ke
konteks berkreativitas, untuk menciptakan karya yang menjadi masterpiece tentu diperlukan banyak
latihan, banyak pengorbanan, seperti batu tersebut ditempa. Mungkin hasilnya
tidak akan langsung terlihat, tapi itu tidak berarti yang kamu lakukan sia sia,
itu juga bukan alasan untuk berhenti.
Mengutip
dari tulisan karya Mark Manson, Seorang seniman besar benama Pablo Picasso
punya cerita menarik terkait hal ini,
Suatu ketika
Picasso sedang duduk sambil mencorat-coret tisu bekas di sebuah kafe di Spanyol,
saat Picasso hendak pergi dan membuang tisu tersebut, ada seorang wanita yang
terkesima dengan corat-coretan Picasso
“Bolehkah
saya meminta tissue itu?” kata wanita tersebut
“Tentu, dua
puluh dolar” kata Picasso
“Apa? Anda hanya
perlu sekitar 2 menit untuk menggambar itu” kata wanita tersebut kaget
“Tidak
nyonya, saya perlu lebih dari 60tahun menggambar ini” kata Picasso dan pergi
meninggalkan kafe.
Cerita tersebuat
memiliki poin yang sama bahwa sebuah karya yang bagus terjadi karena ritunitas
untuk berlatih dan berkreasi yang tak henti.
Dalam hal
ini, khususnya berkarya. Mari kita kembali pada pemahaman bahwa proses itu
adalah bagian yang penting. Memang di era yang serba kilat saat ini kita
cenderung terlena untuk mengabaikan proses, tapi percayalah hasil yang bagus
terjadi karena proses yang bagus.
Terimakasih sudah
membaca, selamat berkreasi
Salam,
Adryan Natha.

selalu keren!! terus berkarya yaa kak!! soalnya kak adryan selalu keren!!!😁
BalasHapus