“Kuncinya ada pada karakterisasi,
karakterisasinya begitu hebat, karakternya bisa dipercaya” begitu kata Jeff Dunham dalam Howie
Mandel Does Stuff, ketika
membahas Edgar Bergen.
Dalam seni ventriloquis, karakter
tentu sangat penting. Kontras karakter antara dalang dan wayang, dalam hal ini ventriloquist dengan figure akan semakin menambah ilusi bahwa
figure tersebut benar-benar hidup.
“Charlie McCarthy berbeda dengan
Bergen, Bergen sopan dan tenang, bahasanya selalu formal sedangkan McCarthy
adalah orang gaul, kasar, tidak terkendali dan cerdik”. (Goldblatt)
Seperti kita ketahui, Jeff Dunham
merupakan salah seorang ventriloquist
yang tampil dengan figure yang begitu berkarekter
Masing-masing figure Jeff Dunham memiliki ciri khas tersendiri,
misalkan saja pada
opening kemunculannya
Achmed the Dead Terrorist, pelaku bom bunuh diri (suicide bomber), disetiap kemunculannya Achmed selalu membuka dengan kalimat
“Good evening,
infidel”
Peanut, adalah woozzle atau karakter khayalan, berkulit ungu, berjambul hijau, dan
selalu tampil dengan satu sepatu di kaki kiri. Disetiap kemunculannya Jeff dan
peanut selalu mengawali dengan dialog berikut ini :
Jeff : how are you doing, peanut?
Penut : i am pretty good, how about you?
Jeff : i am fine
Peanut : that's good, that's good, that's good
Walter, adalah seorang pemarah yang sudah berusia tua, dalam setiap awal kemunculannya, walter selalu memulai dengan kalimat “oh shut the hell up”.
Selanjutnya
saya mengutip tulisan dari Robert McKee, dalam bukunya berjudul Character, The
art of role and cast design for page, stage, and screen
Tulisan
berikut ini terkait dengan role dan karakter, yang musti dipahami untuk membangun
karakter figure kita
“A role is not a character. A role
simply assumes a generic position in a story’s social order (mother, boss,
artist, loner) and then carries out that role’s tasks (feeding children,
managing employees, painting canvases, avoiding people). Like a picture frame
around an empty canvas, a role offers an artist a blank space that needs a
character.”
Ketika kita bermain dengan figure berwujud monyet, kita cenderung berhenti pada pemahaman bahwa itu adalah monyet, cukup.
Padahal seharunya ada pertanyaan berikutnya
“monyet yang
bagaimaa?”
Sama halnya
ketika kita bermain dengan figure anak kecil, pertanyaan selanjutnya yang harus
muncul ialah
“ini anak
kecil yang bagaimana?”
monyet atau
anak kecil dalam contoh diatas adalah role,
itu ibaratnya bingkai foto, dan di dalamnya membutuhkan karakter.
Dokter
Jonas, mentor di Indonesian Ventriloquist Club, menyarankan untuk memegang boneka
minimal 5menit setiap hari.
Bagi saya cara ini tentu sangat efektif,
Dengan memegang boneka minimal 5menit setiap hari, tangan kita akan terbiasa dengan figure,
Senjutnya
akan mulai muncul suara yang pas dengan figure kita, selanjutnya lagi
karakternya akan muncul dengan sendirinya.
Cara lainnya
adalah mengkonsep sendiri karakter untuk figure kita, langkah ini bisa
dilakukan dengan riset terlebih dahulu, observasi/mengamati orang atau tokoh
fiksi di film. Kemudian mulai kita pelajari bagaimana cara ngomongnya,
bagaimana suaranya, bagaimana gerak gerik dan gesturnya. Semakin banyak
mendapatkan informasi akan semakin bagus.
Tentunya untuk menciptakan tokoh yang ikonik, jangan hanya meniru satu
orang, lakukan riset terhadap minimal 2 orang, kemudian digabungkan, sehingga
akan menjadi sebuah tokoh yang baru.
Membangun
karakter tidak bisa dilakukan sehari langsung jadi, diperlukan proses
untuk menjadikannya kebiasaan.
Selamat
berkarya
Salam,
Adryan Natha.

Komentar
Posting Komentar