Langsung ke konten utama

"Karakter" dalam seni Ventriloquis

 

“Kuncinya ada pada karakterisasi, karakterisasinya begitu hebat, karakternya bisa dipercaya” begitu kata Jeff Dunham dalam  Howie Mandel Does Stuff, ketika membahas Edgar Bergen.


Dalam seni ventriloquis, karakter tentu sangat penting. Kontras karakter antara dalang dan wayang, dalam hal ini ventriloquist dengan figure akan semakin menambah ilusi bahwa figure tersebut benar-benar hidup.


“Charlie McCarthy berbeda dengan Bergen, Bergen sopan dan tenang, bahasanya selalu formal sedangkan McCarthy adalah orang gaul, kasar, tidak terkendali dan cerdik”. (Goldblatt)

 

Seperti kita ketahui, Jeff Dunham merupakan salah seorang ventriloquist yang tampil dengan figure yang begitu berkarekter


“Di sebuah wawancara tahun 2014, Dunham menyatakan, Keajaiban dalam tampil sebagai ventriloquist yang menghibur terjadi ketika karakter menjadi hidup dan interaksi antara kepribadian yang berbeda di atas panggung menjadi 'nyata.” (biography.com)


Masing-masing figure Jeff Dunham memiliki ciri khas tersendiri,

misalkan saja pada opening kemunculannya


Achmed the Dead Terrorist, pelaku bom bunuh diri (suicide bomber), disetiap kemunculannya Achmed selalu membuka dengan kalimat

“Good evening, infidel”


Peanut, adalah woozzle atau karakter khayalan, berkulit ungu, berjambul hijau, dan selalu tampil dengan satu sepatu di kaki kiri. Disetiap kemunculannya Jeff dan peanut selalu mengawali dengan dialog berikut ini :

Jeff              : how are you doing, peanut?

Penut         : i am pretty good, how about you?

Jeff              : i am fine

Peanut       : that's good, that's good, that's good


Walter, adalah seorang pemarah yang sudah berusia tua, dalam setiap awal kemunculannya, walter selalu memulai dengan kalimat “oh shut the hell up”.


Selanjutnya saya mengutip tulisan dari Robert McKee, dalam bukunya berjudul Character, The art of role and cast design for page, stage, and screen


Tulisan berikut ini terkait dengan role dan karakter, yang musti dipahami untuk membangun karakter figure kita


“A role is not a character. A role simply assumes a generic position in a story’s social order (mother, boss, artist, loner) and then carries out that role’s tasks (feeding children, managing employees, painting canvases, avoiding people). Like a picture frame around an empty canvas, a role offers an artist a blank space that needs a character.”

 

Ketika kita bermain dengan figure berwujud monyet, kita cenderung berhenti pada pemahaman bahwa itu adalah monyet, cukup.

Padahal seharunya ada pertanyaan berikutnya


“monyet yang bagaimaa?”


Sama halnya ketika kita bermain dengan figure anak kecil, pertanyaan selanjutnya yang harus muncul ialah


“ini anak kecil yang bagaimana?”


monyet atau anak kecil dalam contoh diatas adalah role, itu ibaratnya bingkai foto, dan di dalamnya membutuhkan karakter.

 


Dokter Jonas, mentor di Indonesian Ventriloquist Club, menyarankan untuk memegang boneka minimal 5menit setiap hari.

Bagi saya cara ini tentu sangat efektif,

Dengan memegang boneka minimal 5menit setiap hari, tangan kita akan terbiasa dengan figure,

Senjutnya akan mulai muncul suara yang pas dengan figure kita, selanjutnya lagi karakternya akan muncul dengan sendirinya.


Cara lainnya adalah mengkonsep sendiri karakter untuk figure kita, langkah ini bisa dilakukan dengan riset terlebih dahulu, observasi/mengamati orang atau tokoh fiksi di film. Kemudian mulai kita pelajari bagaimana cara ngomongnya, bagaimana suaranya, bagaimana gerak gerik dan gesturnya. Semakin banyak mendapatkan informasi akan semakin bagus.


Tentunya untuk menciptakan tokoh yang ikonik, jangan hanya meniru satu orang, lakukan riset terhadap minimal 2 orang, kemudian digabungkan, sehingga akan menjadi sebuah tokoh yang baru.

 

Membangun karakter tidak bisa dilakukan sehari langsung jadi, diperlukan proses untuk menjadikannya kebiasaan.


Selamat berkarya

Salam, Adryan Natha.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gak Ada yang Gak Berharga

Sesi kedua perkuliahan, Seperti kebanyakan manusia yang mesti kuliah di jam 3 sore, aku sangat mengantuk.   Sehabis makan siang masuk ke sebuah ruangan yang dingin membuat mataku semakin berat. Aku tidak tahu siapa yang akan mengajar hari ini, karena dalam sistem pendidikan di kampusku satu mata kuliah bisa diajar oleh dosen yang berbeda. “semoga dosen hari ini tidak membuat aku semakin mengantuk” harapanku dalam hati.   Sembari menunggu, masing masing mahasiswa telah menyiapkan peralatannya, ada yang menggunakan laptop, ipad, tab, dan lain sebagainya. aku biasanya menggunakan buku, buku catatan bersampul merah selalu menemaniku untuk mencatat setiap pelajaran dosen. Kadang juga buat corat coret kalau lagi gabut. wkwk Tak lama kemudian suara pintu terdengar, Mba Ubiet (begitu kami menyebutnya) masuk keruangan. Syukurnya kehadiran mba ubiet membuat suasana sore menjadi ceria, dengan gayanya yang aktif ketika menjelaskan dan mengajak mahasiswa juga turut aktif berpartisipasi dal...

Follow, Cerpen karya Adryan Natha

  Follback ya! Atau Follow back ya!   Wkwkkw ini adalah perintah paling tidak penting di dunia sosial media   Kenapa?   Karena, orang memfollow sebuah akun itu karena konten akun tersebut menarik baginya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti   Entah karena edukatif, inspiratif, ataupun menghibur   Jadi kalau memfollow seseorang karena dipaksa untuk follback, ya ngapain?   Mengikuti sebuah akun yang kita ga suka Yang isinya gak jelas   Bahkan ada akun yang tidak post apapun, tapi followernya ribuan   Wkwkwk sudah dipastikan ini orang yang memaksa temen temennya untuk follback, dengan ancaman kalau enggak follback digosipin tukang selingkuh.   Tapi ada juga follow seseorang karena pertemanan, buukan karena konten. Sebenarnya ini tak harus terjadi sih Cuma segan aja, kalau tidak follow, digosipin orang sombong yang sok ngartis di sosmed.   Tapi ya ngapain follow akun yang tidak berfae...

Tragis, cerpen karya Adryan Natha

  Ini adalah sebuah kisah yang sangat tragis, terkait meninggalnya seorang bocah   Jadi, Pada suatu hari seorang bocah minta jalan jalan   Nah, bapaknya kemudian mengajaknya ke belakang rumah, Disana bocah tersebut melihat sumur   “nak awas hati hati” kata bapak mengingatkan agar bocah tersebut waspada   “iya pak” kata bocah itu   Bocah tersebut mengelurkan permen dari kantungnya, dia hendak memakan permen itu   Tapi permennya jatuh ke sumur   “pak permenku jatuh” kata anak itu   “oh ambil aja nak, belum lima menit”   Bocah tersebut nyemplung ke sumur.   TAMAT.