Kata ini juga terdapat di buku Estetika Paradoks yang
ditulis oleh Pak Prof Jakob.
Ini mirip dengan Rwa Bhineda yang populer di bali. Rwa Bhineda
berarti dua yang berbeda yang sejatinya saling membutuhkan satu sama lain.
Untuk kita bisa merasakan terang kita harus tau giamana
rasanya gelap.
Bagaimana mengenal dingin kalau belum mengalami panas
Baik dan buruk sejatinya diperlukan untuk menjaga
keseimbangan. Bayangin jika semua orang dibumi ini laki laki. Ga akan berjalan
dengan baik sih pasti. Dia pasti ga sadar kalo dia laki laki, kalau belum pernah
liat perempuan.
Atau bayangin jika semua tangan di bumi ini adalah tangan
kanan. Jadinya keduanya megang sendok dong, ga ada yang megang garpu.
Atau bayangin dunia ini siang aja trus ga ada malemnya. Ga enak
juga kan.
Di bali ada sebuah upacara yang dikenal dengan nama “Somya”
jadi ini berfungsi untuk menetralisir yang baik dan buruk agar seimbang.
Jadi bukan anti yang buruk, dan mengagung agungkan yang
baik. Semuanya penting, semuanya berguna. hanya perlu diseimbangkan aja.
Segala sesuatu itu ada pasangannya, yaitu pasangan
oposisioner. Dua pasangan kembar berbalikan itu saling mengadakan (eksistensi),
saling menjelaskan, saling mengidentitaskan diri, saling membutuhkan dan saling
melengkapi. Keberadaan itu senantiasa dua dalam hubungan relasional. Segala sesuatu
diluar Yang Esa adalah pasangan Dualitas.
Komentar
Posting Komentar